Seharusnya Aku Tak Melepasmu (Part 3)

Seharusnya Aku Tak Melepasmu (Part 3)
(Sumber Pic : Gue screen shoot dari drama korea yang judulnya Something About 1%)
Hari itu adalah terakhir kalinya aku bertemu dengan Gery. Sejak dia memutuskan untuk pergi. Aku juga sudah memutuskan dia bukan lagi bagian dari hidupku, bukan lagi sahabatku, bukan lagi seseorang yang selalu ada untukku. Dia bukan lagi seseorang yang bisa membuat aku kesal setengah mati dengan candaan dan segala tingkah lakunya.

Sehari sebelum keberangkatannya, Gery masih mengirimkan pesan keponselku. Mengabarkan waktu dan jam keberangkatannya. Gery berharap aku bisa ikut mengantar kepergiannya.

“Soka, Besok jam 9 pagi aku berangkat ke airport…”
“Kamu harus datang, Soka? Aku tunggu!”
“Awaas kalo kamu tidak datang?”
“Kita sudah bersahabat sangat lama..”
“Kamu pasti tau, aku tak pernah bermaksud meninggalkan mu sendiri disini, Soka.”
“Ini hanya soal waktu. Setelah menyelesaikan pendidikan aku pasti kembali lagi kesini.”
“Kamu tak perlu merasa ditinggalkan atau merasa dibuang!”
“Aku tak seperti mereka, yang dulu telah menyia-nyiakan kamu!”
“Ingat sok, Bisa saja ini jadi pertemuan kita yang terakhir. Aku hanya ingin memastikan sesuatu.” Pesan beruntun yang aku terima dari Gery. Ponselku tak berhenti berbunyi hari itu.

Aku tak membalas pesan Gery sama sekali, aku hanya termanggu membaca pesannya. Aku tak tau apa yang ingin Gery pastikan. Aku tak perduli lagi. Yang pasti saat itu aku sudah memutuskan untuk membuang semua hal yang berhubungan dengan Gery. Bagiku Gery sudah tidak ada dalam hidupku. Aku mungkin memang terdengar terlalu egois dan memaksakan kehendak, tapi entah kenapa. Seseorang yang memilih pergi dari hidupku artinya aku juga sudah tak ada artinya bagi mereka. “Mereka pergi!” Artinya aku terbuang dan tak penting!

Pagi itu aku masih menerima pesan dari Gery.
“Kamu dimana, Soka?”
“Please datang, sebentar lagi pesawatku berangkat.”

Aku tetap tak bergeming. Jangankan untuk datang mengantar kepergian Gery, untuk membalas pesan Gery saja aku sudah memutuskan untuk tak membalasnya sama sekali. Ahh...sudahlah.
“Soka, Kamu sudah mengecewakan aku kali ini..!”
“Aku harap kamu tak akan menyesal nantinya!”

Itu pesan terakhir yang aku terima dari Gery dan aku duduk terisak membacanya. Aku tau Gery marah dan sangat kecewa denganku saat itu. Tapi keputusanku sudah bulat. “Gery, Maaf.” Ucapku perlahan.

*** 
Empat Tahun sudah berlalu, hari-hariku berjalan seperti biasa. Sibuk dengan pekerjaan baruku. Saat ini aku bekerja disalah satu perusahaan yang cukup ternama dikota ini. Kota ke dua yang pernah aku tempati. Kota sebelumnya sudah aku tinggalkan, aku memutuskan untuk pergi dari sana setelah aku diterima di perusahaan sekarang ini. Setelah satu tahun sebelumnya tetap berkutat dengan pekerjaan part time.

Saat ini usiaku sudah 32 tahun, belum menikah masih sendiri seperti dahulu. Pun belum pernah menjalin hubungan serius dengan siapapun. Sempat beberapa kali teman sekantor mengajak kencan dan menikah. Tapi aku tolak dengan alasan, mempunyai hubungan dengan pria itu bukan hal menarik bagiku. Alhasil semua pria yang dulu mendekatikku selalu menjaga jarak dan menjauh dariku. Tapi aku tak pernah perduli. Aku pikir, Toh… Aku tidak membutuhkan mereka.

Aku tak punya bayangan bahwa menikah itu adalah sesuatu yang menyenangkan apalagi harus menjalin hubungan dengan orang yang baru aku kenal. Meskipun sempat beberapa teman sekantor menawarkan untuk kencan buta. Tapi aku selalu menolak dengan alasan tak jelas. Aku hanya ingin hidup dengan anakku yang sejak 2 tahun ini aku asuh. Aku meng-adopsinya dari salah seorang perempuan yang hamil luar nikah yang ditinggal pergi oleh kekasihnya. Saat itu aku bertemu dengan dia disalah satu rumah sakit saat aku sedang sakit. Dia bercerita akan mengirim anaknya ke panti asuhan setelah dilahirkan. Dan singkat cerita akhirnya aku mengajukan diri untuk mengadopsi anaknya. Dia mau setelah aku memberikan dia sejumlah uang.

“Aaah…” Mungkin ini takdir!
“Siapa sangka, pertemuanku dengan wanita itu adalah awal bahagiaku lagi. Aku menemukan seseorang lagi. Ra. She is my little girl!. Ra, segalanya untukku sekarang.

Aku menangis terisak ketika memeluk bayi itu untuk pertama kalinya. Marah ketika memikirkan apa yang dilakukan ibu bayi tersebut. Tapi aku tak ambil pusing dan berjanji akan mengasuh bayi itu dengan sebaik mungkin. Aku marah ketika membayangkan, mungkin saja nasibku dulu juga sama seperti bayi ini. Keberadaan kami tidak diinginkan dan akhirnya dibuang. Sambil menangis aku membawa bayi itu pulang setelah menyelesaikan semua urusan dengan ibu sang bayi.

Bayi itu berjenis kelamin perempuan, “Ra” itu nama yang aku berikan. Dan sejak hari itu aku sudah tak merasa sendiri lagi, aku punya seseorang untuk mencurahkan kasih sayangku sepenuhnya. Tanpa pernah khawatir dia akan meninggalkan aku suatu saat nanti.

“Ra, ini Mama…” Sambilku terisak.
“Semoga, setelah besar nanti kamu bisa lebih kuat dari mama. Oke!”

Ketika bekerja, pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor aku menitipkan Ra ke salah satu keluarga yang sudah terbiasa merawat bayi dan aku membayarnya setiap bulan dan sepertinya keluarga itupun menyayangi Ra dengan tulus. Lingkungan sekitar sempat bertanya-tanya dimana ayah bayi itu. Tapi aku sudah menjelaskan ke beberapa orang dituakan bahwa itu adalah bayi yang aku adopsi dan aku sampai hari ini belum pernah menikah.

***
“Selamat pagi…” Sapaku ke beberapa ibu-ibu yang sedang berjalan menikmati pagi.
“Pagi, Soka…..” Jawab mereka tersenyum membalas.

Hari ini aku berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Aku menyapa beberapa tetangga yang aku temui di lorong jalan menuju rumah pengasuhnya si Ra. Ini adalah kegiatan aku selama 2 tahun terakhir. Setelah memberi Ra minum susu, aku akan mengantar Ra ke pengasuhnya dan menjemputnya ketika aku pulang dari kantor. Setelahnya, aku berlari kecil menuju tempat biasa aku memarkirkan mobil setiap hari, hari ini aku tidak boleh terlambat. Karena ada kunjungan dari kantor pusat dan semua staff harus hadir tepat waktu. Sekaligus mengenalkan pimpinan baru yang nantinya akan memimpin perusahaan induk.

Empat tahun kepergian Gery, aku sudah terbiasa dengan ketidakberadaannya. Dan aku juga sudah mulai bisa bergaul dengan teman-teman baru, terutama teman-teman kantor. Sesekali kita Hang Out bersama dan makan bersama. Meskipun terkadang bagiku itu hanya basa basi karena aku tak pernah menikmati kebersamaan itu samasekali.

Hari ini aku sengaja memakai setelan blazer warna agak gelap dengan setelan celana agar aku lebih mudah bergerak. Dengan rambut lurus sebahu. Aku tak pernah mengikat rambutku lagi sejak aku memutuskan untuk memotong rambut panjangku dulu setelah kepergian Gery. Padahal Gery sering bilang kalau rambut panjangku dulu sangat cantik ketika terikat. Dan ini new fase buatku dan aku harus bisa membuang semua kenangan lama.

“Waah ada apa ini?”
Tanyaku ke salah satu petugas keamanan yang berdiri di depan pintu depan masuk. 

“Hari ini pimpinan yang baru datang, Bu.” Kita disuruh membuat penyambutan dan dengan keamanan sebaik mungkin dan nanti semua staff juga harus berdiri didepan untuk menyambut kedatangan pimpinan baru.

“Ooo… begitu.” Jawabku singkat.
Aku sudah tau pimpinan baru akan datang, tapi aku tak berfikir akan ada pengamanan sebegini ketatnya.

Hhhmmm….” Gumamku.
“Baiklah, nanti saya infokan ke staff yang lain juga.”
“Pak nanti jangan lupa sampaikan salam saya ke pimpinan yang baru ya.” Tapi kalau dia tampan. Kalo nggak, ya jangaaan!”
“Haha… “ Aku tertawa sambil berjalan masuk menuju kedalam.

Setelah masuk ke ruangan beberapa teman kantor menghampiriku.

“Soka, kamu tau tidak?” Katanya pimpinan ini anaknya pemilik perusahaan. Masih muda dan lulusan luar negeri lho..”
“Oya…?” Jawabku singkat menuju meja tempat biasa aku menghabiskan waktu.

Riri dan Selly masih mengikutiku, tuh anak masih saja suka membicarakan hal-hal yang belum jelas. Padahal sering sekali aku cuekin. Tapi masih saja.

“Sudah, sudah..!"
"Sebentar lagi jam 9 kita semua harus berkumpul dipintu depan.”
Aku berdiri memberikan info kepada yang lain.

“Pastikan pakaian kalian rapi dan tidak terlihat seperti bangun tidur. Oke!
“Jangan memberikan kesan buruk terhadap pimpinan baru kita hari ini!” Tambahku lagi.

“Siap, Bu… ! Ucap mereka hampir serentak. 

----- Continue to part 4
Seharusnya Aku Tak Melepasmu (Part 2)
Note : Ini cerbung pertama yang gue tulis, please jangan di bully. Terima kasih (By Dita) 
Tag : CERBUNG
0 Komentar untuk "Seharusnya Aku Tak Melepasmu (Part 3)"

Back To Top